Pelajar Korea Mbatik dan Mengunjungi WAM di Surabaya

12 02 2010

Sebanyak 9 orang rombongan pelajar asal Busan, Korea Selatan menikmati acara membatik di Kampung Batik di Tambak Dukuh Timur, kemarin. Mereka adalah bagian dari misi pertukaran pelajar dalam rangka sister city yang sudah berjalan.

Mengunjungi kampung batik merupakan salah satu agenda yang diikuti peserta pertukaran pelajar selama 10 hari berada di Surabaya. Tak hanya belajar membatik, peserta pertukaran pelajar ini nantinya juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang sudah disiapkan. Termasuk kunjungan disejumlah tempat pariwisata yang sudah dikemas sendiri oleh pemkot Surabaya.

Mereka dilibatkan dalam proses belajar mengajar. Para pelajar asing ini akan dibawa menyaksikan pengelolaan sampah menjadi kompos di rumah kompos Bratang.
Mereka juga akan mengunjungi beberapa sekolah, diantaranya ke SMKN 6, SMP Khadijah, SMKN 9, SMPN 22, SMAN 5, SMKN 1 dan SMA St Louis.

Selain itu mereka juga akan diajarkan Bahasa Indonesia, melihat bangunan-bangunan bersejarah Kota Surabaya dengan menaiki bus heritage track, belajar bertani di lokasi program urban farming di Kelurahan Made Kecamatan Sambikerep, serta menjala ikan hasil urban farming di Kecamatan Sukomanunggal.

Kepala Bagian Kerjasama Pemkot Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan pertukaran pelajar ini merupakan kegiatan rutin tahunan. “Kegiatan ini merupakan yang ketiga dalam tiga tahun terakhir. Selain Kota Busan mengirimkan pelajarnya ke Surabaya, kita juga balik mengirimkan pelajar ke Busan,” terangnya.

Pejabat berjilbab ini juga menerangkan para pelajar Busan ini nanti juga akan dibawa mengunjungi wisata mangrove di Kecamatan Gunung Anyar, dikenalkan dengan kesenian Reog Ponorgo, diperlihatkan jembatan Suramadu, pojok baca di taman flora, serta mengunjungi kampung hijau di Kalirungkut.

Antiek menyatakan sister city dengan Busan banyak memperoleh manfaat untuk peningkatan kualitas siswa dan guru. Sebab selain pelajar, rombongan dari Busan juga menyertakan beberapa pejabat dari Dinas Pendidikan kota setempat. Selama ini para pelajar Surabaya yang dikirimkan ke kota tersebut juga dikenalkan banyak hal mengenai Kota Busan.

Antiek berharap dengan memperkenalkan beragam obyek wisata yang diciptakan pemkot, nantinya Surabaya akan menjadi kota jujugan bagi wisatawan local maupun asing. Maklum di Surabaya kini telah banyak dimunculkan sejumlah lokasi yang dapat dijadikan tempat wisata.

Diantaranya, kawasan Banyuurip yang mayoritas warganya menjadi produsen lontong hingga kemudian dikenal dengan kampung lontongnya. Kemudian ada lagi kawasan Kapas Madya yang dikenal dengan kampung tempe. Nama ini diberikan karena warganya yang sebagian menjadi pembuat tempe. Baik yang langsung dijual atau diolah menjadi penganan siap santap. “Kita berharap adanya kerjasama sister city ini banyak potensi yang dapat diraih. Semisal potensi perdagangan dan investasi yang bisa dijalin antar dua kota,” pungkas Antiek.

http://www.surabayapagi.com/index.php?p=detilberita&id=42403


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: