Koleksi Satwa di Hutan Mangrove Wonorejo dan Gununganyar Bertambah

24 01 2010

SURABAYA – Koleksi satwa di hutan mangrove Wonorejo dan Gununganyar kembali bertambah. Kemarin, 20 kera laut dilepas di dua lokasi tersebut. Delapan ekor untuk Gununganyar dan sisanya di Wonorejo. Itu merupakan aksi kedua. Pada 19 Januari lalu, dua kera laut yang diberi nama Akad dan Poniyem juga dilepas ke hutan mangrove Wonorejo.

Pelepasan 20 ekor kera laut itu dilakukan langsung oleh Wali Kota Bambang D.H. Sekitar seratus orang turut serta dalam acara tersebut. Mereka berasal dari Kecamatan Wonorejo dan Gunung Anyar, dinas pariwisata, Surabaya Tourism Board (SPB), dan beberapa instansi lain. Rombongan melaju dari pos pantau mangrove Gunung Anyar menuju pos pantau Wonorejo menggunakan perahu.

Wali kota sempat bercerita tentang tingkah Akad dan Poniyem sebelum dilepas ke hutan mangrove Wonorejo. Dua kera itu dulu adalah hewan peliharaan wali kota. Menurut Bambang, Akad dan Poniyem tidak takut lagi berhadapan dengan manusia. ”Mereka sudah jinak,” tuturnya. Setiap dipanggil, dua kera tersebut langsung menghampiri. Bambang yakin Akad dan Poniyem kini berbahagia karena sudah kembali ke habitat aslinya.

Acara pelepasan kera itu dimulai di Kecamatan Gununganyar. Kemudian dilanjutkan ke Wonorejo. Berbeda dari pelepasan Akad dan Poniyem, kera-kera tersebut tidak langsung dilepaskan begitu saja. Mereka diperiksa dulu oleh dokter hewan dari Yayasan Penguatan Partisipasi Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat (YAPPIKM). Lembaga itulah yang sejak dulu meneliti dan mendata hutan mangrove dan segala spesies di dalamnya.

Sebelum dilepas, kera-kera yang memiliki penyakit tertentu akan diobati agar tidak menulari hewan lain di hutan mangrove. Dalam pemeriksaan kemarin, terdapat seekor kera yang diketahui menderita kutil di dada. Tim dokter lantas memutuskan memisahkan kera tersebut dari teman-temannya.

Menurut data YAPPIKM, warga pernah melepas kera ke hutan Wonorejo tanpa pemeriksaan kesehatan. Setelah beberapa waktu, kera tersebut malah mati. Karena itu, YAPPIKM akan melatih 20 kera tersebut agar mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Menurut Ahmad Suwandi, direktur program YAPPIKM, pihaknya akan membikin kandang untuk 20 kera tersebut. Kandang itu dekat dengan kawasan hutan mangrove. Tujuannya, kera-kera terbiasa merasakan suasana hutan mangrove. Selain kera, pemkot akan menambah dan melepas satwa lain. Misalnya, nyambik dan beberapa jenis burung.

Lebih lanjut, Bambang D.H. menjelaskan kondisi hutan mangrove di Surabaya. Menurut dia, hutan mangrove bisa menambah luas ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya. Penambahan flora dan fauna di hutan mangrove juga merupakan upaya pemkot untuk menambah RTH. ”Kami sudah mengajukan proposal agar mangrove menjadi hutan lindung,” tuturnya.

Salah satu syarat hutan lindung adalah bervariasinya flora dan fauna yang ada. Kader PDIP itu menyatakan, selama ini kondisi hutan mangrove di pesisir timur Surabaya sudah lumayan bagus daripada beberapa tahun lalu. ”Mangrove sudah banyak ditanam,” ujarnya. (upi/oni)

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=113175


Aksi

Information

2 responses

5 02 2010
Ekowati

Selamat sore, mohon memberi informasi alamat dan telpon pada saya sebab saya membutuhkan informasi tersebut untuk membawa siswa saya ke wisata hutan mangrove. No. telpon saya 081556426168. Terimakasih.

5 02 2010
Wisata Anyar Mangrove

terima kasih
alamatnya wam, berada di lingkungan RW VII gunung anyar tambak, tepatnya antara perumahan rivera dan wisma indah II.
ini no kontak kami 98155221007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: