Wali Kota Resmikan Wisata Anyar Mangrove

4 01 2010

SURABAYA – Kian banyak saja wahana wisata di Surabaya. Kemarin (1/1), di Gunung Anyar, Wali Kota Bambang Dwi Hartono meresmikan Wisata Anyar Mangrove (WAM).

Acara itu dilakukan secara simbolis dengan pelepasan balon ke udara. Setelah itu, Bambang menaiki perahu untuk menyusuri deretan mangrove (bakau) di sepanjang garis pantai. Ikut dalam rombongan itu adalah Yusak Anshori (kepala Surabaya Tourism Board), Camat Gunung Anyar Kanti Budiarti, dan pakar tata kota Johan Silas.

Mangrove di sini masih perawan,” ujar Bambang. Menurut dia, bakau di Gunung Anyar tersebut merupakan vegetasi yang sangat berguna bagi pengurangan abrasi laut. Selain itu, vegetasinya unik lantaran ada sembilan spesies yang hanya terdapat di Gunung Anyar.

Bambang berharap, selain tempat rekreasi, WAM bisa jadi area konservasi dan penelitian. Apalagi, sekarang banyak kelompok masyarakat yang peduli terhadap bakau.

Dia menambahkan, WAM memiliki potensi besar. Menurut dia, mangrove di Gunung Anyar tidak jauh beda dengan yang ditemuinya saat berkunjung ke Singapura dan Tiongkok beberapa waktu lalu. “Berarti, WAM bisa ditata seperti negara tetangga,” tuturnya.

Rencananya, beberapa bulan lagi dibangun satu menara pantau mangrove, yang berdaya pantau hingga Kenjeran, untuk melengkapi fasilitas wisata.

Itu dibenarkan oleh Kanti. “Pemkot sangat mendukung,” ujarnya. Selama ini, WAM masih dikelola masyarakat sekitar. Awalnya, mangrove tersebut memang tidak dimaksudkan untuk pariwisata. Kebanyakan pengunjung datang dalam rangka penanaman mangrove. “Tapi, lama-kelamaan, setiap hari libur selalu banyak pengunjung,” ujar perempuan berjilbab tersebut. Kondisi itulah yang kemudian memberanikan kecamatan melapor ke Dinas Pariwisata Surabaya agar meresmikan tempat tersebut sebagai kawasan wisata.

Lurah Gunung Anyar Tambak Djaelani mengatakan bahwa hasil dari kunjungan di kawasan tersebut lumayan. WAM yang dikelola masyarakat dan diprakarsai Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) itu mulai ramai pada Juli 2009, bertepatan dengan selesainya pembangunan menara pantau mangrove.

Selama ini, kebanyakan pengunjung menggunakan perahu-perahu milik nelayan untuk mencapai area mangrove. “Biasanya, pengunjung ditarik tujuh ribu rupiah,” ungkap dia. Hasil yang didapatkan bisa menambah penghasilan nelayan.

WAM dengan luas sekitar 200 hektare tersebut memang menawarkan keindahan. Vegetasi bakau, keanekaragaman flora dan fauna, dan kampung nelayan, akan menjadi suguhan yang menarik bagi pengunjung. Monyet ekor panjang dan berbagai variasi burung menjadi tambahan daya tarik.

Namun, WAM yang telah diresmikan menjadi tempat wisata baru masih kumuh. Banyaknya sampah di sela-sela mangrove mengganggu pemandangan. “Segera dibersihkan oleh DKP (dinas kebersihan dan pertamanan, Red),” tegas Bambang. (upi/dos)

http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=108815


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: